Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan

Menikmati Sunrise Sempurna di Puncak Panderman

April 01, 2019 Add Comment

Menatap peristiwa alam (dok.pri)

Assalamualaukum semua...

Saya mau curcol nih..hehe..Kalau ada yang tanya, kenapa sih saya suka naik gunung? Padahal kan capek trus kudu nanjak-nanjak bikin kaki pegal semua. Pertanyaan itu yang sering terlontar dari teman-teman. Kalau sudah gitu jadi panjang kali lebar jelasinnya. Tapi intinya ada kepuasan bathin saat bisa nginjak tempat yang tinggi. Ibarat seperti menuju salah satu tempat ciptaanNya yang luar biasa. Jadi makin tunduk dan lebih mengagungkanNya.

Nah salah satu yang saya suka waktu mendaki adalah bonusnya. Memang muncak ada bonusnya? Ya lah bonusnya bisa lihat sunrise yang keren dan memukau. Dan view yang cakep itu hanya didapat saat muncak.

Kalau kalian pernah kan melihat sunrise? Pemandangan menakjubkan saat matahari terbit, kerap menarik perhatian semua orang. Seperti sunrise di Gunung Panderman, Batu Jawa Timur. Degrasi warna yang menakjubkan tampak memukau. Bagaimana penampakannya? Simak yaaa...

Menikmati Sunrise di Panderman

Suatu saat kalau kalian jalan-jalan ke Malang, nanjaklah ke Gunung Panderman. Gunung yang berada di Tirtomoyo, Pesanggarahan, Batu ini memiliki ketinggian 2000 mdpl. Kalau pendaki pemula bisa melewati jalur umum yang tak begitu ekstrim. Butuh waktu sekitar 3-4 jam. Bisa tik tok atau pergi pulang, tapi harus berangkat dini hari untuk mengejar sunrise.

Sunrise di Gunung Panderman bisa menjadi obat lelah. Usai melakukan perjalanan yang lumayan ekstrim, kemudian melihat indahnya sunrise, serasa menguap segala rasa capek. Yang ada hanya kekaguman pada ciptaanNya.
Warna langit yang eksotik (dok.pri)

Saat di puncak kalau kalian beruntung, bakal melihat warna yang sangat sayang untuk dilewatkan. Biasanya proses perubahan warna langit sangat cepat berubah. Jadi kalau bawa kamera baik dari smarphone atau kamera DSLR kudu membidik dengan cepat dan sebanyak mungkin. Sehingga kalian mendapatkan kesempatan tiap detik perubahan warna yang terjadi.

Usai subuh sekitar pukul 04.45  hingga 05.00 adalah saat matahari mulai muncul. Di langit akan berpendar cahaya aneka warna seperti biru, ungu, oranye dan kuning yang saling membaur alami. Keindahan ini harus traveler abadikan.

Sekilas Tentang Gunung Panderman

Gunung Panderman, namanya berbau ke barat-baratan kan? Memang betul nama Panderman berasal dari nama seorang berkebangsaan Belanda. Konon dulu Van Der Man adalah orang Belanda yang pertama kali muncak ke gunung tersebut. Dia sangat mengagumi sunrise dan view di sekitar gunung itu. Karena lidah orang Jawa sehingga dari penyebutan nama Van Der Man berubah menjadi Panderman.

Puncaknya bernama Basundara. Untuk mencapai ke Puncak harus melalui dua pos yakni pos 1 di Latar Ombo dengan ketinggian 1300 mdpl. Sedang pos 2 di Watu Gede (1730 mdpl). Di dua pos itu banyak pendaki yang ngecamp bila tak berniat muncak di Basundara (2000 mdpl).
Pos 2 Watu gede (dok.pri)

Untuk naik ke Panderman akan ditarik tiket berbayar 10 rb di pos loket. Tapi sebelum mencapai loket, dari titik parkir bawah kita harus berjalan sejauh 3 km dengan jalan yang nanjak terus tanpa bonus. Tapi kalau traveler mau irit tenaga, boleh naik ojeg berbayar 10rb. Gak rugi kok, jadi tenaga kita full saat naik ke Panderman.
Puncak Basundara (dok.pri)

Kalau berangkat malam via jalur umum,  akan disuguhi view kerlap-kerlip Kota Batu. Indah sekali. Sementara waktu  turun siang hari, bentangan gunung Putri Tidur akan mengawal kita. Terlihat hutan pinus dan juga akan kita temui gerombolan kera. Sebuah keharmonisan hidup terpancar disana.

Nah bagaimana nih, apa kalian berminat melihat sunrise di puncak Panderman? Pastinya akan banyak cerita yang tak berkesudahan. Selalu ada kesan yang membuat kita semakin percaya akan kebesaranNya.

#setip
#setipestrilookcommunity

Puas , Jelajah Coban Keren di Malang

Januari 22, 2019 22 Comments


Apa yang tersirat dalam benak emak, kalau mendengar Kota Malang? Sebuah kota wisata yang adem?  Atau jadi ingat apel dan pantai? Semua itu betul Maakk,  tapi selain yang emak ingat itu,  masih ada lho tempat yang super duper menarik. Apa tuh?  Ya coban atau air terjun yang ada di Malang. Keren juga lho cobannya. Gak percaya?  Yukk ada 5 coban keren yang saya tulis dibawah ini yaa...

Tapi sebelumnya maakk, saya mau tanya nih...Menurut emak kalau menyoal tentang coban atau air terjun, kayanya butuh waktu lama. Setuju gak? Kalau menurut saya sih nggak. Malah di Malang ada lho dengan waktu 5 jam bisa menikmati indahnya lima coban di Jabung Malang. Coban apa saja ya, penasaran gak makk ?
Berbaur dengan hijaunya alam  (dok.pri)

Lima coban yang dimaksud terletak di desa Ngadirejo, sekitar 25 KM arah timur Kota Malang. Untuk menuju kesana kita bisa menempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat. Titik utamanya sebagai pintu adalah area Coban Jahe.  HTM 10 ribu dengan membayar parkir 5 ribu.

Btw...kelima coban itu bisa membawa kita pada petualangan  menakjubkan lho. Selain coban tersebut luar biasa juga mempunyai nama unik dan cerita dibaliknya. Apa dan bagaimana, simak ya...

1. Coban Susuh

Lokasinya masuk dari loket Coban Jahe kemudian menuju  Coban Susuh. Membutuhkan waktu sekitar 45 menit saja kok.  Untuk menuju kesana, kita harus melewati kebun penduduk sekitar.  Awalnya masih jalan datar saja,  tapi semakin lama agak nanjak tiba di wilayah hutan.

Coban Susuh lokasinya berada disekitar hutan yang masuk wilayah  Ngadirejo. Dari cerita yang berkembang, di lokasi hutan inilah tempat persembunyian penduduk dan pejuang yang dulu melawan penjajah. Dalam Bahasa Jawa, Susuh itu berarti tempat tinggal sementara.  Karema coban berada disekitar hutan  yang tempat persembunyian itu,  sehingga orang menyebutnya sebagai Coban Susuh.
Coban Susuh (dok.pri)
Akar pohon berlumut untuk narsis (dok.pri)

Coban Susuh debit airnya lumayan besar dan berair bening. Disisi kanna kirinya terdapat tebing yang cukup tinggi.  Bahkan disekitarnya terdapat akar pohon yang panjang dan berlumut.  Akar tersebut menjadi spot untuk bernarsis oleh para pengunjung.

2. Coban Kodok

Lucu ya namanya, Coban Kodok dari Coban Susuh akan melewati hutan juga dan membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit.  Selain itu juga menyusuri jalan disepanjang sungai yang tak dalam dan berair bening.

Coban Kodok secara fisik lebih tinggi dari Coban Susuh. Airnya deras sehingga membuat percikan seperti air hujan. Saking derasnya, pandangan dibawah coban seperti berkabut.
Menyusuri Sungai (dok.pri)

Coban Kodok (dok.pri)

Kenapa disebut Cobam Kodok?  Konon menurut seorang warga yang juga menjadi guide yakni Maul,  coban tersebut ada sejarahnya.  Dulu saat jaman perang banyak kodok yang hidup di sekitar coban. Kodok-kodok tersebut menjadi santapan para pejuang dan tentara yang bersembunyi dari kejaran tentara Belanda. Mungkin terpaksa  memakan kodok ya karena tidak ada yang dimakan. Bermula  dari itulah coban tersebut dinamakan Coban Kodok.

3. Coban Sari

Coban Sari adalah titik pertemuan antara Coban Susuh dan Coban Kodok.  Airnya jernih dan memiliki area yang datar dibanding dua coban sebelumnya.  Tingginya kurang lebih 8 meter. Ditempuh dari Coban Kodok kurang lebih 60 menit
Coban Sari (dok.pri)
Usai sholat dhuhur buka bekal maksi bareng  (dok.pri)

Karena sekitar area coban terlihat nyaman buat istirahat, maka penduduk setempat menyebutnya Coban Sari.  Di tempat inilah pengunjung juga bisa menikmati air terjun dan bisa melaksanakan sholat dan makan siang.

4. Coban Tangkil

Untuk menuju Coban Tangkil akan melewati dataran tinggi dan jalan menurun. Menyusuri jalan setapak ditengah perkebunan kopi hutan yang ditanam oleh penduduk. Lumayan jauh dari Coban Sari menempuh waktu sekitar 90 menit. Lumayan berkeringat pemirsah...
Jalan nanjak bekas longsoran (dok.pri)

Oya pada masyarakat Jawa,  Tangkil dikenal sebagai alat pertanian berupa cangkul tapi berukuran kecil.  Nah menurut penduduk setempat,  kenapa coban itu dinamakan Coban Tangkil? Konon kabarnya,  dulu disekitar coban tersebut pernah ditemukan sebuah peti lumayan besar. Tentu saja penemuan itu menghebohkan penduduk setempat.
Coban Tangkil (dok.pri)

Oleh penduduk peti itu keemudian dibuka. Dan ternyata berisi cangkul kecil dalam jumlah banyak. Entah milik siapa hingga kini pun tidak ada yang mengetahuinya.  Berdasarkan cerita tersebut akhirnya coban tempat ditemukan tangkil dinamakan Coban Tangkil.

Coban Tangkil tingginya sekitar 20 meter. Namun saat kemarau debit airnya kecil.  Disekitar coban banyak bebatuan berukuran besar.  Sehingga para pengunjung memanfaatkannya untuk pepotoan berlatar coban.

5. Coban Ani-ani

Dari coban sebelumnya,  Coban Ani-ani paling anti mainstream.  Selain harus melewati hutan, menyebrang sungai yang licin juga melewati celah batu untuk mencapai coban.

Jadi pengunjung harus memilih tiga jalur yakni jalan naik memutar, nyemplung sungai dengan bantuan licin atau via celah batu.  Semua tergantung dari kesiapan dan keberanian masing-masing. Kalau saya memilih nyemplung sungai dengan kedalaman sepinggang atau semeter lebih. Batu di dalam sungai super licin jadi harus berpegangan tali yang diulurkan oleh teman yang lebih dulu sampai. Dan kembalinya melewati celah batu besar yang hanya cukup untuk seukuran body seseorang, Beruntung ukuran tubuh saya bisa dikempesin dikit jadi bisa lolos lewat lubang batu. (dikempesin, hehe...balon kalee...)
Celah batu menuju Coban Ani-ani (dok.pri)

Coban Ani-ani  (dok.pri)

Kalau Coban Ani-ani ini juga kisahnya mirip Coban Tangkil.  Bedanya di coban ini dulu ditemukan alat pertanian berupa ani-ani atau alat pemotong padi. Konon dari cerita yang berkembang coban ini tempat orang bertapa.  Terlihat di belakan curaan air terjun terdapat semacam goa. Disitulah tempat orang bersemedi.

Coban Ani-ani meski untuk menuju coban ini lumayan ekstrim tapi terdapat tanah datar persis di depan coban.  Ditempat itulah pengunjung bisa beristirahat melepas lelah.


Nah itulah makk... kelima nama coban berikut cerita yang berkembang terkait keberadaannya.  Yang pasti kalau emakk ingin berpetualang mencari coban yang tersembunyi di balik bukit, dibutuhlan tenaga ekstra. Persiapan lainnya tentu bekal yang cukup.  Sebab meski mengantongi duit banyak makk, kalau di dalam hutan uang tidak laku karena gak ada mall atau ind*mart. Jadi,  kapan emak akan berpetualang mengunjungi coban-coban tersebut?

#ODOP
#estrilookcommunity
#day11

Melongok Indahnya Sunrise-MU di Puncak Panderman

September 20, 2018 34 Comments
Setelah beberapa kali cancel, Alhamdulillah malam itu kami janjian di seberang stasiun Kota Baru Malang. Sebenarnya kami semua dari Malang, tapi untuk meet up saya sengaja memilih tempat ini. Biar kesannya seperti orang dari luar kota gitu, hehe... Biasanya saat menjemput tamu wisata, meeting point juga disekitaran stasiun. Jadinya biar berasa lebih semangat. Olalaaaa, hehe...
Salah satu gradasi warna langit saat sunrise di Panderman (dok.pri)

Berboncengan dengan 2 motor kami segera menuju Batu, menempuh perjalanan 1 jam. Sayangnya ditengah jalan, seorang teman urung ikut nanjak ke Gunung Panderman. Karena mendadak ada tugas meliput. Walahhh...

Halangan pertama teman yang cancel mendadak, bisa dimaklumi. Ehhh... datang hambatan kedua, ban motor tetiba bocor. Alhamdulillah bocornya tak jauh dari gerbang wisata Panderman. Tepat di Jalan Sakura Pesanggarahan Batu, kami bertemu seorang teman yang juga mau bergabung. Nah gak lama ban sudah oke ditambal, kami berempat langsung menuju ke desa Toyomarto, desa terakhir sebelum Gunung Panderman.
Siap nanjak (dok.pri)

Bismillah, semoga tidak ada halangan lagi. Demikian saya membathin dengan doa yang selalu terucap. Saya, putriku yang berusia 13 tahun, Mba Intas dan Mas Febri, dengan niat dan semangat memenuhi keinginan ke Panderman  yang beberapa kali tertunda.

Awal Nanjak Sebelum Bener-bener Nanjak Panderman

Karena motor kami berjenis matic, oleh warga setempat disarankan untuk parkir di bawah. Yakni di desa sebelum jalan menuju gerbang loket (cek point) Panderman. Menurut salah seorang warga demi keselamatan diri. Sebab rutenya berbahaya untuk jenis matic. Jadinya kami memarkir motor dengan biaya nitip 10rb.

Malam pukul 22.30 WIB. Untuk menuju desa Toyomarto desa terakhir harus berjalan dulu kurang lebih 3 KM. Jalan yang terus nanjak dan berkelok tajam. Awalnya ditawari untuk naik ojek berbayar 10rb. Sekalian warming up jadi kami menolak dengan halus. Bergegas kami menembus gelap dan dinginnya malam. Mungkin saat itu kalian sudah pulas dalam mimpi yaa, hehe...

Sedikit terengah saya pemirsah..Karena baru melangkah 50 meter dari tempat parkir, kami kudu nanjak dengan kemiringan jalan 50 derajat. Dan itu terus nanjak! Melewati jalan yang ber-hotmix, mulus tapi climb up n climb up. 

Saya baru nyadar, kalau hanya rombongan kami yang meniti jalan nanjak ini. Beberapa kali ojek bersliweran dengan deru motor yang sedikit ngotot, membawa pengunjung yang ingin mendaki Panderman. Bahkan ada rombongan yang naik pick up menyalip kami yang terpaksa menghentikan langkah, memberi kesempatan mobil untuk lewat. Jalan yang sempit memaksa saya untuk rehat sekian detik saat ada motor atau mobil lewat. Tapi lumayan ahhh...modus rehat, wkkkwkkk..

Sementara jauh dibawah terlihat pemandangan yang indah. Kerlip lampu rumah penduduk dikejauhan bagai kunang-kunang di kegelapan. Itu kota Batu. Kami pun bernarsis dengan latar gemerlap lampu itu. Kalau saya sih terus terang modus lagi. Hihi...modus untuk rehat, bonus lagi...Sik asyikkk...



Semakin nanjak semakin dingin dan sepi! Saya hanya berdoa dan berpasrah dengan terus mengikuti jalan yang semakin naik. Tak saya hiraukan cerita orang-orang di tempat parkir tentang korban kecelakaan yang terjadi sepanjang jalan yang kami lewati. Menurut mereka kasus kecelakaan yang berujung kematian kerap terjadi karena tak menguasai medan jalan. Pokoknya kami semangat maju dan tak lupa tentu bertumpu pada trackpole. Sangat membantu saya untuk keseimbangan.

Semakin jauh berjalan tak ditemukan lagi rumah penduduk. Hanya angin yang terus mendesau pelan dan lama kelamaan bertiup kencang. Tiba di suatu villa ada bonus jalan datar, kami menghentikan langkah. Sudah tak terlihat lagi sliweran tukang ojek. Wahhh tinggal kami saja di jalur jalan yang gelap. Sambil berusaha membuang sepi kami guyon. Anin putri saya bertanya," masih jauh ya Ma?"

"Kita baru jalan separuh mba untuk tiba di loket gerbang, semangat yaa," hiburku. Putriku baru kelas 8 tapi beberapa kali ikut berpetualang. Awal ikut saat masih SD kelas 5 bareng Komunitas Rainbow Mommy mendaki sebuah bukit di Purwokerto. Kemudian di Budug Asu di ketinggian 2000 mdpl di kaki Gunung Arjuna dan yang lainnya. Saat ada ajakan ke Panderman dengan antusias putri saya menerimanya.

Tak berapa lama muncul motor dari arah atas. Mas ojek menawarkan jasanya. Terjadilah tawar menawar. Kesepakatan hanya membayar separo harga karena sudah separuh perjalanan, hehe.. Jadilah kami berempat diangkut ojek bergiliran. Waaawww....ternyata masih jauh dan harus melewati perkebunan yang gelap. Pantesan diantara srkian banyak pengunjung semua naik ojek, olalaaa ya karena jauhhh dan nanjak...

Saran saya kalau kalian ingin nanjak ke Panderman sebaiknya naik ojek dari parkir bawah menuju parkir atas. Itu kalau motor kalian berjenis matic. Oya kenapa ada yang boleh memarkir motor di atas yang letaknya di gerbang loket? Yah hanya untuk motor selain matic bisa "lolos" dari parkir bawah. Dan kenapa harus ngojek? Tentu untuk menghemat tenaga. Mending tenaga disiapkan untuk nanjak ke Panderman.Gak rugi kok keluarin kocek 10 rb, hehe...

Memulai Perjalanan Panjang Dalam Gelap Ke Puncak Panderman

Tiba di pos loket Panderman waktu menunjuk pukul 23.00 WIB. Setelah membayar tiket 10rb per orang kami menyusuri jalan setapak. Tentunya usai berdoa. Tampak sekeliling gelap hanya jalan setapak yang agak terang oleh lampu senter kami. Terdengar suara gemericik air menemani langkah-langkah yang beraturan. Saya cuma bisa membayangkan airnya pasti bening dengan tetumbuhan sayur yang menghijau.
Tiket masuk ke Panderman (dok.pri)

Bersama kami ada rombongan anak sekolah dari Kepanjen. Kami yang dari awal mendaki tanpa target waktu, mempersilahkan mereka untuk jalan duluan. Lagi-lagi gelap menemani kami. Yaa jelaslah...mana ada hutan di malam hari terang?  Hehe...Yang pasti sepanjang jalan kami berucap salam dan beristigfar untuk keselamatan kami

Sebagai pemula, kami ingin melalui jalan yang tak ekstrim. Sebelumnya
saya sempat googling kalau ada 2 jalur pendakian ke Panderman. Yakni jalur yang umum tak ekstrim namun lebih panjang dan memakan waktu 3-4 jam. Melewati jalur umum ini kita akan melewati pemandangan gunung dan hutan yang menghijau. Juga melewati kebun tebu yang entah ditanam warga atau tumbuh sendiri.

Sedangkan jalur satunya adalah jalur Curah Banteng. Jalur ini tidak disarankan untuk pendaki pemula karena akan menemui jalur yang sulit serta menanjak tanpa bonus. Bahkan saat saya googling, lewat Curah Banteng ini akan melewati jalur dengan kemiringan  nyaris 90 derajat. Jalur hanya bisa dilewati dengan cara memanjat.

Malam itu meski tak melalui jalur Curah Banteng, tapi trek yang kami lewatu cukup ekstrim! Woowww....sungguh kalau pas nanjak siang, mungkin kami bisa melihat seperti apa trek nya. Dalam keadaan gelap dan sedikit berdebu, kami nanjak dengan merangkak melewati bebatuan. Ya ampuunn...kami hanya berusaha jalan dan mengikuti arah. Peluh bercucur... Eh padahal hawa dingin yaa...Kalah lho sama geliat dan tingkah polah kami yang mengendap dan sedikit nungging menghindari lancipnya bebatuan. Beruntung kami semua memakai kaos tangan. Awalnya untuk menahan dingin, tapi belakangan untuk melindungi telapak tangan agar tak tergores batu.

Kurang lebih 1 jam berjalan  dari loket cek point kami tiba di pos 1 yakni Latar Ombo di ketinggian 1300 mdpl. Di Latar Ombo ini ada beberapa tenda yang didirikan. Tanah datar itu tak begitu luas sebagau area ngecamp pendaki. Kami saling bertegur sapa layaknya saling kenal. Yah begitulah saat bertemu sesama "pengunjung" Panderman atau gunung lainnya, biasanya saling suport dan menyemangati.

Seperti malam itu salah satu dari anak SMA Kepanjen ada yang sakit. Wajahnya pucat dan muntah-muntah. Sepertinya masuk angin dan kecapekan. Hingga perjalanan kami berempat pun terhenti untuk menolong anak yang sakit tadi. Memijat dan membaluri tubuhnya dengan minyak kayu putih. Bahkan meminjamkan kompor dan nesting untuk membuat minuman jahe hangat. Alhamdulillah tak berapa lama anak SMA itu kuat kembali. Yahhh... modus waktu rehat habis hihi...Semangat jalan nanjak lagi...

Pemirsah....menuju Panderman banyak jalan bercabang. Kudu membelalak mata melihat petunjuk. Ada yang menggunakan pita ada juga tanda panah yang ada di batang pohon. Disuatu jalan yang menanjak, waktu menunjukkan pukul 24.30 WIB kami berempat mendapati jalan yang bercabang lagi. Masih  tergiang saat di pos cek point,  bapak penjaga loket mewanti-wanti agar teliti membaca petunjuk supaya tidak kesasar. Mas Febri yang berada di posisi belakang bergantian dengan Mb Intas. Kami bertiga di bawah sedang Mas Febri mengecek jalan karena tak kami dapati petunjuk.

Saat Mas Febri nanjak sendiri, Mba Intas merasa ada sesuatu di belakangnya. Hihhhh...sedikit horor yaa. Seperti ada yang berdiri di belakangnya, padahal kita bertiga dengan formasi di posisi depan saya, tengah putri saya dan belakang Mba Intas. Takut gak yaa Mba Intas? Sambil terus istiqfar dia berusaha menyorot arah belakang yang memang gelap. Hihhhhh....

Sekitar 5 menit Mas Febri muncul dan memberi kode untuk melanjutkan perjalanan yang semakin menanjak. Tak ada rasa kantuk dan dingin, yang ada hanya rasa ingin segera tiba di puncak. Padahal pos 2 Watu Gede pun belum terjamah, hehe...

Menempuh jalan nanjak dari pos 1 ke pos 2 Watu Gede selama hampir 1 jam. Ditandai dengan batuan besar yang ada di pos 2 dengan ketinggian 1730 mdpl. Disini juga ada pendaki yang ngecamp tapi hanya beberapa saja karena lahan datarnya juga tidak begitu luas. Dalam hati saya bersorak, pasti tak lama lagi sampai di puncak Panderman.

Ternyata masih harus berjuang lagi. Ya Allah...sudah hampir 3 jam kami menyusuri jalan yang berdebu dan nanjak, melewati gelapnya malam. Menembus dinginnya hawa gunung yang tak terasa, karena fisik kami terus bergerak. Hanya terlihat bayangan teman seperjalanan dan jurang di kanan kiri jalan setapak. Selebihnya hanya gelap dan desau nafas kami yang tertahan.

Btw menurut informasi dari pos 2 menuju puncak hanya ditempuh dalam 30 menit. Itu normalnya. Tapi kalau langkah slow seperti langkah saya, bisa mencapai 1 jam. Hehe...Tapi jalannya yang ditempuh lebih ekstrim. Semakin mendekati puncak semakin medannya amazing, kemiringannya 80 derajat. Juga berbatu dengan kontur tanah seperti pasir. Licin pasti!
Watu Gede tampak siang hari (dok.pri)

Saat kami berusaha nanjak di bebatuan tampak 2 orang menyambut kami. Ahaaa..
rupanya teman Mas Febri. Alhamdulillah...dari atas ada 2 orang yang menarik kami satu per satu. Sedangkan 2 orang lainnya tampak berdiri. Hati saya jadi lega berarti rombongan bertambah jadi total 8 orang. Kami rehat sambil mendekati api unggun yang tengah menyala. Logistik pun keluar, ada yang makan nasi, roti, minum dll. Lelah sedikit menguap. Tak lama kami mengamankan lokasi untuk memadamkan api dengan air yang ada. Saat kami siap untuk melanjutkan perjalanan, spontan saya bertanya,"Lho mas yang satunya mana ya? Tadi kan mas berempat?"

Mas Febri menjawab,"lha kan dengan saya jadi cowoknya berempat bu, hehe" Tapi bener lho tadi saya lihat 4 orang yang bergabung. Akhirnya kami bertujuh melanjutkan perjalanan. Dalam hati saya bertanya-tanya sosok yang satu lagi siapa? Kok tahu-tahu menghilang begitu saja. Dan tanya itu sampai sekarang belum terjawab! Kalaupun ada "penyusup" dari dunia lain, yang pasti tidak menganggu kami. Karena niat kami ke Panderman baik, hanya ingin melihat alam dan sunrise lepas subuh nanti.

Sunrise Panderman yang Sungguh Memukau 

Perjalanan panjang selama 3,5 jam yang cukup melelahkan berakhir. Kami tiba di Puncak Panderman yang berjuluk Basundara tepat pukul 02.30. Rasanya ingin segera merebahkan diri di dalam tenda. Hehe...tapi kudu nunggu tenda didirikan. Yahh.. beruntung Mas Febri dkk tanggap dan cekatan. Tak lama tenda berdiri dan kami bertiga pun langsung rebahan.
Puncak Basundara (dok.pri)

Langsung memejam mata? Owhh tidaakkk...hawa di puncak dingin dengan temperatur 14 derajat celcius. Saya tak mampu memejamkan mata dengan lelap, kuatir melewati saat sunrise. Jadi hanya ngulur boyok, haha...Bahasa Indonesia nya yaa rebahan gituu...

Selepas waktu subuh, saya beranjak keluar tenda. Dingin menggigit kulitku. Gemeretak gigi karena kedinginan tak kuhiraukan. Di puncak Panderman banyak yang ngecamp. Ditengah-tengah tenda yang betebaran tampak tiang bendera Merah Putih. Berjarak sejengkah ada papan bertuliskan Basundara Mt Panderman 2000 mdpl. Ya Allah akhirnya saya bisa menapak langkahku di puncak Panderman.
Banyak tenda di Puncak Panderman (dok.pri)

Panderman asal muasalnya dari nama seorang Belanda yang bernama Van Der Man. Konon dari cerita yang berkembang, dulu Van Der Man orang pertama yang bisa naik hingga puncak dan begitu menyukai view di gunung tersebut pada jamannya. Hingga nama gunung itu akhirnya berjuluk gunung Van Der Man (lidah Jawa menyebut Panderman). Hingga sampai sekarangpun bernama Gunung Panderman yang secara administratif masuk wilayah dukuh Toyomarto, Pesanggaragan, Batu.

Keindahan alamnya saya buktikan sendiri pagi itu. Masih pukul 04.45 di ketinggian 2000 mdpl, saya benar-benar takjub. Subhanallah..tak berkesudahan saya menyebut asma-MU. Allahu Akbar...sejauh mata memandang terlihat langit yang berwarna amazing. Gradasi warna yang Kau cipta sungguh sempurna.
Cantiknya gradasi lukisan Allah (dok.pri)

Jujur baru kali ini saya melihat warna langit yang demikian indah. Meski tak sampai menikmati golden sunrise tapi cukup puas mendapat picture yang luar biasa. Ya Allah terima kasih atas kemurahanMU memberi sehat pada saya. Rasanya segala dingin dan lelah semburat menguap saat melihat keajaiban sunrise di puncak Basundara yang elok.
Siluet berlatar langit yang cantik (dok.pri)

Puas jepret sana jepret sini, narsis sana narsis sini, pukul 08.00 WIB meski hanya memejam mata sekelebatan saja, kami bertiga turun. Kok bertiga? Yaa karena Mba Intas agak sakit kakinya,  sementara rehat. Sedangkan saya mengejar acara Malang Flower Carnival siang nanti. Mba Intas bersama rekan-rekan yang lain, agak siang bakal turun.

Mas Febri dkk sangat baik dan sabar. Mereka bertanggung jawab atas anggota tim yang dipandunya. Saya yang secara umur hampir kepala 5 kurang setahun pun merasa nyaman jalan bareng mereka. Perhatian dan saling membantu satu sama lain. Capek satu dan rehat, rehat semua. Tak ada rasa ingin mendahului. Kompaklah pokoknya. Bahkan sebelum turun dan berpisah, 3 temannya menawarkan jalan bareng ke Semeru. Boleh pilih sampai Ranu Kumbolo atau Summit. Hehe...kalau saya sudah 2 kali ke Rakum tapi gak bosan, kalau summit saya tahu diri dengan kemampuan. Haha....

Bertemu Banyak Kera Jinak

Saya, putriku dan Mas Febri turun. Rasanya langkah terasa ringan. Wooww ternyata baru terlihat jalan menukik yang semalam kami lewati. Tanah yang berdebu pun masih nampak beterbangan. Bekas jejak langkah pendaki yang turunpun masih tampak jelas.

Semalam yang tak nampak saat turun terpampang semua. View gunung Welirang dan gugusan gumung Putri Tidur tampak dari kejauhan. Hutan yang rimbunpun menghijau, membuat mata jadi segar. Hutan pinuspun terlewati. Pokoknya siang itu puas dan jelas. Haha...

Di sepanjang jalan turun kami menemui banyak gerombolan kera. Suaranya yang khas membuat kami melongokkan kepala mencari sumber suara. Ahaaaa...kera-kera itu bergelayutan diantara pepohonan. Kami masih memiliki bekal, giliran berbagi dengan kera-kera yang lucu. Mereka saling berebut, hehe..

Melewati pos 2 di Watu Gede. Amboiii semalam kami melewati sisi-sisinya. Buat kenang-kenangan kami pun narsis di ketinggian 1730 mdpl. Wooww gede lho batunya. Perjalanan pulang lebih santai tak berbeban. Selain jalannya turun juga beban bekal sudah habis, termasuk air minum.

Melewati kebun tebu yang tumbuh tak beraturan, Mas Febri berinisiatif untuk mengambil batang tebu. Dan kami bertiga menyesap air tebu pengganti air untuk pelepas dahaga. Wooww Mas Febri memang luar biasaaa. Saya acungi jempol dah. Sayangnya pas kita bertiga saling menggerogoti tebu, memori hp saya full jadi tak bisa mengabadikan keseruan kami yang berusaha survive di alam terbuka.

Rasanya berkesan banget perjalanan ke gunung Panderman. Hanya ada suka yang tak mungkin terlupa, meski ada acara horor-hororan. Sampai kini masih ada tanda tanya besar, siapakah seorang  penyusup saat malam di bebatuan mendekati puncak Panderman? Tapi yang pasti saya tak kapok untuk menjelajah dan mendaki gunung lagi....(15-16/9/18)












Coban Siuk dan Coban Sisir yang Menyihir

Agustus 09, 2018 30 Comments
Pemirsah ketemu lagi ya..Ingat gak  niatan saya habis dari Coban Giwan mau lanjut ke coban apa? Yuup betul.. mau ke Coban Siuk dan Sisir. Nah saat akan melanjutkan perjalanan matahari agak beringsut ke barat. Saya dan 2 sahabat Explore Wisata Malang ( Mas Anugrah dan Mas Feri) sepakat tak menunda perjalanan. Coban Giwan yang  aduhai masih tetap membayangi langkah saya yang agak berat. Hehe.. maklum dengkul ini kalau ibarat mesin, harus diolesi oli lagi agar lebih oke. Tapi berhubung bukan mesin jadi dinikmati saja apa yang terasa. Toh nanti akan hilang begitu saya melihat coban berikutnya.
Yesss...!!!

Berkendara roda 2 sekitar 10 menit dari base camp, kami bertiga tiba disebuah gerbang. Tertulis, Selamat Datang di Coban Siuk. Kata mas Anugerah Tri dari gerbang ke lokasi Coban tak begitu jauh. Melihat kondisi jalan menuju Coban Siuk berbatu, saya mencoba berdamai dengan diri sendiri. Rasanya kurang bijak kalau memaksakan diri untuk membonceng. Jadilah saya meniti jalan "makadam" yang tak datar alias agak nanjak, sendiri. Ya sendirian. Karena mas Anugrah dan mas Feri tetap berkendara ke atas.

Bisa dibayangkan, langkah berat sisa-sisa Coban Giwan masih terasa. Dan kini harus melangkah lagi. Demi memenuhi hasrat melihat Coban Siuk, semangat 45 kuluncurkan. Sebenarnya memang tak jauh, jalanpun hanya butuh waktu, tak lebih 15 menit dari gerbang.

Dua Coban yang Menyihirku

Ada rasa yang tersedot saat tatap saya terfokus pada satu titik air. Seperti tak berjarak titik air itu persis tepat di atas kepalaku. Tingginya kurang lebih 90 meter dari tanah yang kupijak. Sambil terus mendongakkan kepala, saya bersyukur. Percikan air nya begitu adem menembus kulit saya.

Coban yang tinggi dan terlihat gagah itu ada dipelupuk mataku. Subhanallah. Coban Siuk namanya. Menurut penjaga loket Rib'an, nama Siuk berasal dari nama pemilik lahan sekitar coban yang dulunya ditanami kopi. Kebun kopi tersebut memenuhi hampir seluruh lokasi dekat coban. Kala itu rimbun dan tentu saja subur. Beberapa tahun kemudian entah karena apa, lahan disekitarnya gundul. Akhirnya oleh pihak terkait diadakan reboisasi dengan menanam pohon pinus.

Coban Siuk mulai dibuka sebagai tempat wisata sekitar tahun 2015. Namun hingga kini pengunjungnya masih kisaran 30 org di hari minggu . Sedangkan di hari biasa hanya ada beberapa orang saja yang menyambangi. Seperti saat saya datang terlihat 5-7 orang saja. Padahal coban Siuk indah dan untuk menuju ke lokasi dekat dengan parkiran. Cukup mudah dan tak sulit.

Aliran coban Siuk mengalir membentuk sungai dengan air terjun mini yang bertingkat-tingkat. Percikan air dan gemericiknya membuat irama alam yang mendamaikan hati. Sayapun tak melewatkan untuk mengabadikan the natural painting sekitar coban Siuk.

Tak jauh dari Siuk ada juga coban Sisir. Kedua coban tersebut seperti menyihirku. Terlihat cucuran airnya rapi bak sisir. Konon karena mirip sisir sehingga coban yang tingginya tak lebih dr 10 m itu dinamakan coban Sisir. Itu yang saya dengar dari cerita yang berkembang. Meski tak tinggi tapi coban Sisir bersih bisa untuk mandi. Karena tempat jatuhnya air coban dangkal sehingga aman untuk pengunjung yang ingin menikmati mandi air coban. Yang pasti airnya super dingin yaa...

Sehari bisa merapat di 3 coban itu bagi saya adalah sesuatu banget. Rasanya berucap tak berkesudahan untuk segala nikmat yang dilimpahkanNya. Adalah alam ciptaan Allah yang mampu memberi kita banyak pelajaran. Saat bercengkerama dengan alam, mengajarkan pada saya arti kesabaran, perjuangan dan rasa syukur. Untuk sehatku dan semua yang Kau beri, terima kasih ya Allah...!!!

25/07/18

Memburu Coban Giwan yang Eksotis

Agustus 08, 2018 48 Comments

Membayangkan bercengkerama dengan alam sungguh sangat mengasikkan. Melihat hijau dedaunan di hutan yang lebat, menyusuri sungai yang berair bening, nanjak tanah bergunung ataupun mendengar cericit burung di hutan lepas. Saya selalu membayang kan dengan semangat tinggi. Dan beruntung, keinginan hati bertaut dengan nyata.

Adalah ajakan seorang anggota A2H3 yang  juga anggota Xplore Wisata Malang, saya mencoba mengikuti langkah mereka ke suatu coban (air terjun).  Lokasinya sangat nyempil dengan treking yang cukup terjal . Coban tersebut adalah coban Giwan tepatnya masuk wilayah desa Taji, Jabung, Kab Malang.

Saya hanya bisa berguman: luar biasa. Disuatu titik nun di bawah lembah dan sungai terselip kebesaran ciptaanNya. Betapa tidak, untuk menuju ke Coban yang masih "perawan" itu kudu menyusuri kebun-kebun warga. Menyibak semak belukar termasuk meniti jalan bukan setapak. Melainkan jalan ditengah kebun singkong yang banyak ditanam oleh warga setempat.
Menyusuri kebun warga

Naik Turun Lembah : Amazing

Selain pak Soepeno warga desa Taji yang memandu kami, juga ada ibu Rami Harry yang sangat mengenal medan coban yang ada di Malang Raya. Saat kami melenggang menuruni jalan tanah 15 menit dari base camp (rumah Pak Soepeno), ada info untuk menghentikan langkah. Kami dapat masukan kalau Coban Giwan yang akan kami tuju masih jarang dijamah orang. Hingga kami diberi "sangu" berupa sejumput garam.

Kembali meneruskan perjalanan, kurang lebih 30 orang beriringan. Melewati kebun dengan kemiringan tanah sekitar 50 derajat. Melintasi hutan dengan pepohonan rimbun pun kondisi tanah yang tak datar. Menyebrang sungai yang membelah hutan dengan bebatuan alami. Gemericik air sungai yang bening mempesona penglihatan pastinya. Hmm... betapa kita manusia tak berkuatan apa-apa jika dibanding dengan kekuatanNya mencipta.

Sejogjanya memang perlu bersyukur atas semua karuniaNya. Mendapati fisik kita yang sempurna untuk menikmati kesempurnaan alam. Caranya?  Ya dengan membaurkan diri pada alam. Satu hal yang bisa dipetik dari kegiatan ini, selain mengenal teman-teman seperjalanan juga menambah takjub diri bahwa di bagian bumi lain ada ciptaanNya yang amazing.

Melewati Tanjakan Nyaris Tegak Lurus

Usai menyebrang sungai kecil kami masih terus berjalan. Tampilan alam yang menghijau pastinya membuat saya dan teman-teman semangat untuk segera tiba di Coban Giwan. Estimasi waktu kurang lebih sekitar 60 menit tiba dilokasi nampaknya bakal molor. Tentu saja kami tak melulu berjalan dan yang pasti mengabadikan perjalanan kami.

Tiba disuatu titik, saya dan teman-teman harus lebih konsetrasi. Dibalik rerimbunan pepohonan hutan suara guyuran air terjun terdengar. Tentu bahagia bakal melihat coban yang jadi tujuan. Ahhh rupanya kami harus lebih berjuang lagi dan bersabar. Ternyata untuk turun ke sungai harus melewati tanah dengan kemiringan hampir 90 derajat. Wooww...
Berbekal tali kamipun turun menuju anak sungai dengan bebatuan besar. Sudah didepan matakah cobannnya? Ternyata belum terlihat juga. Kami harus menyusuri sungai dengan air yang menggigit kulit. Beberapa kali saya terpeleset dan basah pastinya. Namun itu adalah bagian dari perjalanan yang menarik. Hehe...

Menyusuri sungai kurang lebih 10 menit akhirnya kami melihat coban Giwan. Air terjun yang tercurah tak terlalu tinggi kurang lebih 10 meter. Tapi debit airnya kencang dan besar. Disisi kanan ada bebatuan tinggi yang menghias kokoh. Melihat itu segala peluh dan rasa lelahpun menguap. Bermain air dan bernarsis menjadi agenda kami selanjutnya.

Coban Giwan yang aduhai akhirnya masuk dalam catatan harian saya. Sebagai coban dengan treking yang lumayan menguras tenaga untuk menuju kesana. Menurut info banyak coban ada disekitar desa Taji. Desa ini terletak di dataran tinggi berjarak kurang lebih 25 km arah timur kota Malang. Secara administratif masuk wilayah kecamatan Jabung Kabupaten Malang.

Konon kabarnya ada puluhan  coban yang  sembunyi di balik bukit di wilayah tersebut. Hari itu usai menilik coban Giwan, langkah saya ditemani 2 sahabat dari Xplore Wisata Malang menjejak Coban Siuk dan Coban Sisir.  Ikuti ceritanya yaa....to be continue...

25/07/18